www.gitaralfian.co.cc »

Minggu, 27 Juli 2008

Materi Pembelajaran

I. MUSIK TRADISIONAL NUSANTARA
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki alat-alat musik dan budaya yang beraneka ragam yang disebut musik daerah. Musik daerah adalah musik yang lahir dari budaya daerah dan diwariskan secara turun temurun yang secara umum disebut musik tradisional. Oleh karena itu alat musik maupun lagunya menjadi sifat unsur kesederhanaan dan kedaerahan.
Alat musik tradisional Nusantara dapat dikelompokkan menjadi 4 jenis sesuai dengan fungsi pengelompokannya, antara lain:
 Chordophone : Instrumen yang sumber bunyinya berasal dari dawai. Contoh: Sasando, Siter/Rebab, Celempung, dll.
 Aerophone : Instrumen yang sumber bunyinya berasal dari udara yang di tiup. Contoh: Seruling, Kledi, dll.
 Membranophone : Instrumen yang sumber bunyinya berasal dari kulit membran. Contoh: Kendang, Ketipung, dll
 Idiophone : Instrumen yang sumber bunyinya berasal dari alat itu sendiri. Contoh: Gong, Saron, Bonang dll
Berikut ini beberapa nama-nama alat musik tradisional beserta lagu daerah khas adat kebudayaan Nusantara sesuai dengan daerahnya:
a. Propinsi Sumatera Utara / Sumut
Alat Musik Tradisional : Arumba, Doli-doli, Druri dana, Faritia, Garantung, Gonrang, Hapetan,
Lagu Daerah : Say Selamat Masineger, Leleng Ma Hupaima Ima, Dago Inang Sarge, Madedek Magambiri, Meriam Tomong, Sigulempong, Rambadia, Sinanggar Tulo, Piso Surit, dll.
b. Propinsi Sumatera Barat / Sumbar
Alat Musik Tradisional : Saluang, Talempong Pacik
Lagu Daerah : Keparak Tingga, Kambanglah Bungo, Tari Payung, Rang Talu, Lah Laruik Sanjo, Seringgit Dua Kupang, Bareh Solok, Kampuang Nan Jauh Dimato, Malam Baiko, Dayuang Palinggam, Gelang Sipaku Gelang, Tak Tong Tong.
c. Propinsi Jawa Barat / Jabar
Alat Musik Tradisional : Arumba, Calung, Dod-dog, Gamelan Sunda, Angklung, Rebab.
Lagu Daerah : Cing Cang Keling, Sapu Nyere Pegat Simpai, Tokecang, Es Lilin, Pepeling, Nenun, Manuk Dadali, Bubuy Bulan.
d. Propinsi Jawa Tengah / Jateng dan DI Yogyakarta
Alat Musik Tradisional : Gamelan Jawa, Siter / Celempung
Lagu Daerah : Gundul pacul, Suwe Ora jamu, Tekate Dipanah, Gek ke Piye, Lir Ilir, Gambang Suling, Pitik tukung.
e. Propinsi Bali
Alat Musik Tradisional : Gamelan Bali
Lagu Daerah : Putri ayu, Ngusak Asik, Janger, Macepet Cepetan, Tari Bali, Meyong-Meyong
f. Propinsi Nusa Tenggara Barat / NTB dan Nusa Tenggara Timur / NTT
Alat Musik Tradisional : Cungklik, Foi Mere, Sasando, Keloko
Lagu Daerah : Pai Mura Rame, Desaku, Tutu Koda, Helele U Ala de Teang, Potong bebek, Anak Kambing Saya, O Nina Noi, Lereng Wutun, Bole Lebo, O Re Re, Tebe Ona Na.
g. Propinsi Kalimantan Selatan / Kalsel
Alat Musik Tradisional : Babun
Lagu Daerah : Ampar-Ampar pisang, Sapu Tangan Babuncu Ampat, Tumpi Wayu, Palu Lempang Pupoi, Cik Cik Periok.
h. Propinsi Sulawesi Selatan / Sulsel
Alat Musik Tradisional : Alosu, Anak Becing, Basi-Basi, Popondi, Keso-Keso, Lembang
Lagu Daerah : Tondok Kadadiangku, Marencong Rencong, Pakarena, Angin Mamiri, Anak Kukang.
i. Propinsi Maluku
Alat Musik Tradisional : Floit, Nafiri, Totobuang, Tifa
Lagu Daerah : Hela Rotan, Burung Kakatua, Sarinande, Ayo mama, Rasa Sayange, Naik-Naik Kepuncak Gunung, Nona Manis Siapa Yang Punya, Waktu Hujan Sore-Sore, Lembe-Lembe, Gunung Salahutu, Burung Tantina.
j. Propinsi Irian Jaya / Papua
Alat Musik Tradisional : Atowo, Tifa, Fu
Lagu Daerah : Yamko Rambe Yamko, Apuse.
Lain-Lain :
- Gerdek berasal dari daerah Dayak Kalimantan
- Kere-kere galang berasal dari daerah Goa
- Kinu berasal dari daerah Pulau Roti
- Kolintang berasal dari daerah Minahasa
- Sampek berasal dari daerah Dayak Kalimantan
- Talindo berasal dari daerah Sulawesi
- Kecapi berasal dari daerah Seluruh Nusantara Umumnya di Jawa
- Kledi berasal dari daerah Kalimantan
- Serunai berasal dari daerah Sumatera

Catatan : Data ini berdasarkan jaman Indonesia masih 27 propinsi dengan provinsi terakhir masih timor timur. Timor timur kini sudah terpisah dari NKRI menjadi negara baru yang berdaulat dengan nama Timor Leste.
Musik sebagai sarana adat istiadat, pengiring tari, pemujaan dan pertunjukkan tidak lepas dari kontak budaya Nusantara. Musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Musik yang berkembang di Nusantara antara lain :
A. Musik Gambus :
Musik ini berhubungan erat dengan ajaran agama Islam. Gambus sendiri merupakan bentuk dari alat musik sejenis gitar dengan wadah gema yang cembung, memakai tujuh dawai yang ditata secara rangkap seperti Mandoline.
Musik gambus pada umumnya terdiri atas pemain vokal. Lagu-lagu yang dibawakan pada umumnya bertema keagamaan dan persoalan cinta. Alat yang digunakan pada musik gambus terdiri dari Gambus, Rebana, dan Biola.
B. Orkes Melayu :
Musik ini merupakan bentuk dari lagu-lagu melayu asli dan merupakan cikal bakal dari musik melayu yang saat ini dikenal dengan sebutan musik dangdut. Instrumen yang digunakan adalah Akordeon, Gendang melayu/Tabla dan gong kecil.
C. Musik Minang :




Alat musik dari daerah Sumatera Barat ini yang terkenal yaitu Talempong. Talempong adalah alat musik sejenis bonang dari logam perunggu atau besi berbentuk bundar dengan pencu di bagian tengahnya. Alat musik yang digunakan selain Talempong terdiri dari alat musik tiup ( Serunai, Puput Tanduk, Suliang dan rebana), alat musik perkusi ( gendang besar, ketipung, rebana, gendang sendang, Talempoing dan Gong), Alat musik barat (gitar, biola, dan terompet).
Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tari piring yang khas, tari pasambahan, tari gelombang,dll. Talempong digunakan untuk menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian dimulai dengan tangga pranada DO dan diakhiri dengan SI. Talempong diiringi oleh akor yang memainkanya sama dengan memainkan piano.
D. Musik Dayak :
Di daerah Dayak, tepatnya di Banjarmasin terdapat orkes karawitan khas Banjar. Instrumen musik terdiri atas; Rebab, Gender, Gambang, dan Suling (diagonal). Sedangkan untuk Suku Dayak sendiri memiliki instrumen berupa; Suling yang disebut Kledi/Keruri/Kedire, Kasapi/Sampek (semacam lute yang dipetik dengan tubuh dari kayu yang diberi pahatan yang indah), Gong yang disebut Tawak, dan ada dua Gendang besar dan kecil.
E. Musik Minahasa :
Alat musik yang khas adalah Kulintang. Kulintang adalah alat musik sejenis gambang atau Xilophone yang terbuat dari bilahan kayu dan satu perangkat terdiri dari terdiri atas 7 kulintang. Dimainkan dengan tangga nada diatonis. Alat musik lain yang digunakan adalah; Rebana, Gambus, dan Suling. Dalam permainannya kulintang dapat secara instrumental maupun untuk mengiringi nyanyian.
F. Musik Maluku :
Alat musik di Maluku sudah banyak yang hilang. Alat musik di Maluku antara lain; Arababu (Rebab) dengan resonator dari ketipung, Idiokordo yang di sebut tatabuhan, Gong, Korno (alat musik tiup) yang terbuat dari siput.
G. Musik NTT :

Sasando adalah sebuah alat instrumen musik petik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Bentuk sasando ada miripnya dengan instrumen petik lainnya. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas ke bawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.
H. Musik Papua :
Musik papua lebih banyak mendapat pengaruh dari Maluku. Namun Instrumennya yang khas adalah Tifa.
I. Musik Angklung :

Angklung adalah alat musik tradisional, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar. Pada awalnya Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.
Asal-usul
Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung dan calung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Prototipe alat musik angklung dan calung mirip sama; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.
Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masih memeluk agama Hindu dan pada masa kerajaan Padjadjaran saat itu angklung di gunakan sebagai tanda waktu sembahyang dan pada masa jaman kerajaan Padjadjaran, kemudian di gunakan oleh kerajaan Padjadjaran sebagai instrument musik pada korps musik saat perang Bubat.
Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah hindia belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.
Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya.
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung dan calung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan-aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.
Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung dan calung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.
1. Angklung Kanekes
Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.
Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang.
Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.
Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.
Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.
2. Angklung Dogdog Lojor
Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.
Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.
Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.
3. Angklung Gubrag
Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung). Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.
4. Angklung Badeng
Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.
Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.
Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.
5. Buncis
Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.
Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle..., dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.
Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.
Dari beberapa jenis musik mambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Daeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutisna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan dan dimainkan secara orkestra besar sampai sekarang.
J. Musik Arumba :
Musik ini merupakan alunan rumpun bambu. Secara prinsip hampir sama dengan Angklung, hanya susunannya ditata seperti gambang. Cara memainkannya dengan dipukul. Tokoh Musik Arumba antara lain; Yos Rosadi, Sukardi, Rahmat dan Bill Saragih.
K. Musik Gamelan :
Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Musik gamelan juga disebut sebagai musik heterofon karena memiliki pola ritme yang kaya. Para pemain gamelan disebut Niyaga, Penyanyi nya disebut Sinden Waranggana, dan lagu yang di mainkan disebut Gendhing.
Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.
Dari catatan sejarah, tangga nada sléndro lebih tua daripada tangga nada pélog. Tangga nada sléndro diperkenalkan pada Dinasti Syailendra sekitar abad 8 M. Menurut cerita, tangga nada sléndro ditemukan oleh Dewa Batara Endra atas petunjuk Dewa Shiva. Sedangkan pélog, Menurut Ronggo Warsito diciptakan oleh Prabu Banjaran Sari alias Panji Hino Kartopati alias Joyoboyo pada tahun 1519 M.
Laras sléndro, kadangkala dieja sebagai saléndro, dalam gamelan disebut Pentatonik enharmonis karena terdiri 5 nada dalam satu oktaf (gembyangan). Sruti (interval) setiap nadanya diberi satuan centimeter suara atau sering disebut cent. Sruti-sruti nadanya adalah 240 cent. Sedangkan untuk interval sempurna keempatnya yang lebih sempit, sekitar 480 cent, berbeda dengan interval pelog yang lebih lebar. Kelima nada pada laras sléndro adalah sebagai berikut:
Simbol Nama Nada Dibaca
1
2
3
5
6
1 Barang
Gulu
Dhadha
Lima
Nem
Barang Alit Ji
Ro
Lu
Ma
Nem
Ji

Laras pélog sendiri memiliki tujuh nada dalam satu gembyangan (oktaf) dan disebut Heptatonis, tetapi biasanya suatu komposisi akan ditulis dalam 5 nada. Skala pelog dapat dibuat dengan cara merangkaikan interval sempurna keempat dengan sruti yang cukup lebar, sekitar 515 sampai 535 cent. Ketujuh nada tersebut dituliskan sebagai berikut:
Simbol Nama Nada Dibaca
1
2
3
4
5
6
7 Panunggul/bem
Gulu
Dhadha
Pelog
Lima
Nem
Barang Ji
Ro
Lu
Pat
Ma
Nem
Pi

Kedua laras dalam gamelan Jawa tersebut jika dituliskan secara tangga nada diatonis adalah sebagai berikut:
Nama Laras Secara Tangga Nada Diatonis
Sléndro
1=do 2=re 3=mi 5=sol 6=la 1=do
Pélog
1=do 3=mi 4=fa 5=sol 7=si 1=do
Contoh lagu tradisional umum yang menggunakan laras Sléndro dan Pélog; Gundul Pacul (laras Pélog) dan Lir ilir (laras Sléndro).

GUNDUL PACUL
Do = C
4/4 Lagu : tradisional
___ __== ___ ___ ___ ___ ___ ___
{ 0 1 { : 3 . 1 3 4 5 5 . 7 | 1(> ) 7 1>( ) 7 5 0 1 :{
Gun dul gun dul pa cul cul gemble le ngan Gun
Wa
____ ____ ____ ____ ____
{ : 3 5 4 4 5 4 | 3 1 4 3 1 0 1 :}
kulglimpangse ga ne da di sak la tar wa


LIR ILIR
Do = C
2/4
Lagu : Tradisional
____ ____ ____ ____ ____ ____ ____ ____
{ 0 1> 1> { : 2> ( ) 3> 1> 1> | 2(> )) 3> 1> 1> | 5 5 1> 1> | 6 5 5 |
Lir i Lir Lir i Lir tan du rewong su mi lir tak i

____ ____ ____ ____ ____ ____ ____
| 5 5 1> 1> | 6 6 3 6 | 5 3 2 3 | 1 1> 1> :}
jo ro yo ro yo taksengguh penganten a nyar

Nada dalam skala dengan dua sruti yang berbeda, dilambangkan dengan L dan S, adalah: gulu=S, dada=L, pelog=S, lima=S, nem=S, barang=L, bem=S, gulu=S. Dalam hal ini, S adalah sekitar 110-150 cent dan L adalah sekitar 250-300 cent.
Disamping itu, khusus untuk karawitan vokal (tembang) menggunakan laras barang miring. Bakunya laras barang miring adalah laras sléndro, akan tetapi pada vokal (tembang) dan gesekan rebab menggunakan nada-nada yang miring/minir (dinaikkan setengah nada dari nada sléndro). Sehingga apabila terdengar tembangnya saja rasanya seperti laras pélog.
Jenis-jenis Gamelan :
1. Gamelan Bali
2. Gamelan Banyuwangi
3. Gamelan Sunda
4. Gambang Kromong
5. Gamelan Banjar
6. Gamelan Jawa


1. Gamelan Bali
Menurut jamannya, Gamelan Bali dibagi menjadi 3 bagian besar:
a) Gamelan Wayah
b) Gamelan Madya
c) Gamelan Anyar
a. Gamelan Wayah
Gamelan wayah atau gamelan tua diperkirakan telah ada sebelum abad XV. Umumnya didominir oleh alat-alat berbentuk bilahan dan tidak mempergunakan kendang. Kalaupun ada kendang, dapat dipastikan bahwa peranan instrumen ini tidak begitu menonjol.
Beberapa gamelan golongan tua antara lain:
i. Angklung
Gamelan Angklung adalah gamelan berlaras slendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrumen berbilah dan pencon dari krawang, kadang-kadang ditambah angklung bambu kocok (yang berukuran kecil). Dibentuk oleh alat-alat gamelan yang relatif kecil dan ringan (sehingga mudah dimainkan sambil berprosesi).
Di Bali Selatan gamelan ini hanya mempergunakan 4 nada sedangkan di Bali Utara mempergunakan 5 nada.
Berdasarkan konteks penggunaaan gamelan ini, serta materi tabuh yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi:
Angklung klasik/ tradisional : dimainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian)
Angklung kebyar : dimainkan untuk mengiringi pagelaran tari maupun drama.
Satu barung gamelan angklung bisa berperan keduanya, karena seringkali mempergunakan alat-alat gamelan dan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat luas gamelan ini dikenal sebagai pengiring upacara-upacara Pitra Yadnya (ngaben).
Di sekitar kota Denpasar dan beberapa tempat lainnya, penguburan mayat warga Tionghoa seringkali diiringi dengan Gamelan angklung. menggantikan fungsi gamelan Gong Gede yang dipakai untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya (odalan) dan upacara lainnya.
Instrumentasi Gamelan angklung terdiri dari:
Jumlah Satuan Instrumen
6-8 pasang yang terdiri dari sepasang jegogan, jublag dan selebihnya pamade dan kantilan
3-4 pencon reyong, untuk Angklung Kebyar mempergunakan 12 pencon
2 buah kendang kecil untuk angklung klasik dan kendang besar angklung kebyar
1 buah tawa -tawa

1 buah kempur kecuali angklung kebyar mempergunakan gong

ii. Balaganjur
Balaganjur adalah pengiring prosesi yang paling umum dikenal di Bali. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap prosesi membawa sesajen ke pura, atau melasti (mensucikan pusaka / pratima), atau upacara ngaben akan diiringi oleh barungan yang sangat dinamis dan bersemangat.
Balaganjur yang tergolong barungan madya ini dibentuk oleh instrumen-instrumen seperti:
Jumlah Satuan Instrumen
6-12 pasang cengceng kopyak

2 buah kendang cedugan (lanang dan wadon)

1 buah kajar

1 buah kempli

2 buah gong besar

1 buah kempur

1 buah pamade

Barungan ini ada kalanya dilengkapi dengan sebuah tawa-tawa. Sementara cengceng dimainkan secara kakilitan atau cecandatan, dengan pola ritme yang bervariasi dari pukulan besik atau negteg pukulan "telu" dan "nenem" di mana masing-masing terdiri dari pukulan polos (sejalan dengan mat), sangsih (disela-sela mat), dan sanglot (di antaranya). Reyong menjadi satu-satunya kelompok instrumen pembawa melodi. Sebagaimana halnya cengceng, reyong juga dimainkan dalam Balaganjur terdiri dari Gilak yang dimainkan dalam tempo cepat atau sedang dan pelan.
iii. Bebonangan
Gamelan Bebonangan seringkali dibaurkan dengan Balaganjur. Sungguhpun sama-sama merupakan barungan untuk mengiringi prosesi dan sama-sama berlaras pelog, Bebonangan yang termasuk barungan alit mempunyai instrumentasi yang relatif lebih sederhana daripada Balaganjur. Instrumen-instrumen yang membentuk barungan Bebonangan sebagian besar berbentuk pencon seperti reyong (yang dilepaskan dari plawahnya), kemong dan kempur.
Adakalanya barungan ini melibatkan dua buah kendang (lanang dan wadon), namun bisa pula hanya dengan 1 buah kendang saja. Begitu juga cengceng yang dipakai dalam barungan ini pada umumnya lebih kecil dari pada yang dipakai dalam Balaganjur. Tabuh-tabuh yang dimainkan pada umumnya berupa gilak atau gagilakan. Pembawa melodi utama dalam barungan ini adalah reyong yang dimainkan secara kakilitan.
Di daerah Bali utara dan timur, gamelan bebonangan dimainkan untuk mengiringi upacara korban ke laut atau upacara penguburan jenazah.
iv. Caruk
Caruk termasuk jenis gamelan langka, termasuk barungan alit, adalah gamelan sejenis gambang yang dibentuk oleh 2 gambang berukuran kecil (caruk) dan 1 buah saron. Melihat dari instrumentasinya, dengan jumlah 3 orang pemain. Caruk pada dasarnya adalah gamelan Gambang yang diperkecil. Gamelan ini juga tergolong gamelan sakral yang dimainkan hanya dalam kaitan dengan upacara ngaben (Pitra Yadnya) dengan jenis tabuh yang hampir sama dengan gamelan Gambang. Kini caruk sudah semakin langka hanya dengan beberapa buah sekaa di daerah Karangasem, Gianyar, Tabanan dan Badung yang masih aktif memainkan gamelan ini.

v. Gambang
Gamelan Gambang adalah salah satu jenis gamelan langka dan sakral, termasuk barungan alit yang dimainkan hanya untuk mengiringi upacara keagamaan. Di Bali tengah dan selatan gamelan ini dimainkan untuk mengiringi upacara ngaben (Pitra Yadnya), sementara di Bali Timur (Karangasem dan sekitarnya) Gambang juga dimainkan dalam kaitan upacara odalan di Pura-pura (Dewa Yadnya).
Gambar Gamelan Gambang terdapat pada relief candi Penataran, Jawa Timur (abad XV) dan istilah gambang disebut-sebut dalam cerita Malat dari zaman Majapahit akhir. Hal ini menunjukan bahwa Gamelan Gambang sudah cukup tua umurnya. Walaupun demikian, kapan munculnya Gambang di Bali, atau adakah Gambang yang disebut dalam Malat sama dengan Gamelan Gambang yang kita lihat di Bali sekarang ini nampaknya masih perlu penelitian yang lebih mendalam.
Gamelan Gambang, berlaras Pelog (tujuh nada), dibentuk oleh 6 buah instrumen berbilah. Yang paling dominan adalah 4 buah instrumen berbilah bambu yang dinamakan gambang yang terdiri dari (yang paling kecil ke yang paling besar) pametit, panganter, panyelad, pamero dan pangumbang.
Setiap instrumen dimainkan oleh seorang penabuh yang mempergunakan sepasang panggul bercabang dua untuk memainkan pukulan kotekan atau ubit-ubitan, dan sekali-kali pukulan tunggal atau kaklenyongan. Instrumen lainnya adalah 2 tungguh saron krawang yang terdiri dari saron besar (demung) dan kecil (penerus atau kantil), kedua saron biasanya dimainkan oleh seorang penabuh dengan pola pukulan tunggal kaklenyongan.
Daerah-daerah yang dipandang sebagai desanya Gambang di Bali antara lain:
 Tenganan, Bebandem (Karangsem)
 Singapadu, Saba, Blahbatuh (Gianyar)
 Kesiut (Tabanan)
 Kerobokan, Sempidi (Badung).
vi. Gender Wayang
Gender Wayang adalah barungan alit yang merupakan gamelan Pewayangan (Wayang Kulit dan Wayang Wong) dengan instrumen pokoknya yang terdiri dari 4 tungguh gender berlaras slendro (lima nada). Keempat gender ini terdiri dari sepasang gender pemade (nada agak besar) dan sepasang kantilan (nada agak kecil). Keempat gender, masing-masing berbilah sepuluh (dua oktaf) yang dimainkan dengan mempergunakan 2 panggul.
Gender wayang ini juga dipakai untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi) dan upacara Pitra Yadnya (ngaben). Untuk kedua upacaranya ini, dan untuk mengiringi pertunjukan wayang lemah (tanpa kelir), hanya sepasang gender yang dipergunakan.
Untuk upacara ngaben 2 gender dipasang di kedua sisi bade (pengusung mayat) dan dimainkan sepanjang jalan menuju kuburan. Untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit Ramayana, wayang wong Ramayana maupun Mahabharata (Parwa), 2 pasang gender ini dilengkapi dengan sepasang kendang kecil, sepasang cengceng kecil, sebuah kajar, klenang dan instrumen-instrumen lainnya, sehingga melahirkan sebuah barungan yang disebut gamelan Batel Gender Wayang.
Pertunjukan wayang kulit yang lengkap biasanya memakai sejumlah tabuh yang berdasarkan fungsinya.
Tabuh-tabuh yang dimaksud antara lain:
vii. Genggong
Genggong juga termasuk gamelan langka dan barungan alit, adalah gamelan yang instrumen utamanya genggong yang terbuat dari pelepah enau. Desa yang telah memiliki tradisi Genggong yang kuat adalah Batuan (Gianyar). Di sini Genggong dimainkan sebagai pengiring tari, yaitu tari Kodok dan sebagai sajian musik instrumental.
Barungan gamelan Genggong biasanya terdiri dari 4 - 6 buah genggong, 2 buah suling, sepasang kendang kecil, klenang dan sebuah gong pulu (guntang). Kesederhanaan bentuk dan musik yang ditimbulkan oleh barungan ini mengingatkan kita kepada musik dari kalangan masyarakat petani.
Genggong pada umumnya hanya memainkan lagu-lagu yang berlaras Slendro. Untuk membunyikannya, genggong dipegang dengan tangan kiri dan menempelkannya ke bibir. Tangan kanan memetik "lidah"nya dengan jalan menarik tali benang yang diikatkan pada ujungnya. perubahan nada dalam melodi genggong dilakukan dengan mengolah posisi atau merubah rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.
Teknik permainan genggong yang khas adalah ngoncang dan ngongkeknya (menirukan suara katak).

viii. Gong Beri
Gong Beri termasuk barungan alit adalah gamelan langka dan sakral. Hingga kini Gong Beri masih dipelihara dengan baik oleh warga masyarakat desa Renon, Sanur di Denpasar.
Gamelan ini biasanya dimainkan untuk mengiringi tari Baris Cina. Istilah Beri sering disebut-sebut di dalam kakawin Bharatayuda yang berarti sebuah alat perang. Juga di dalam Prasasti Blanjong, terdapat istilah Bheri yang juga berarti alat perang. Gong dibuat dari krawang dan diduga merupakan peninggalan kebudayaan Dongson.
Gong yang ada dalam barungan ini mempunyai banyak persamaan dengan nekara bulan yang terdapat di Pura Penataran Pejeng (Gianyar). Berbeda dengan instrumen gong lainnya, gong pada gamelan Gong Beri tidak memakai pencon, seperti gong Cina.
Barungan Gong Bheri terdiri dari:
Jumlah Satuan Instrumen
2 buah gong (bor dan ber)

1 buah klenteng (sejenis gong namun lebih kecil dan nadanya lebih tinggi)
1 buah kendang bedug
1 buah sungu (kerang besar)
1 buah suling kecil

1 buah tawa-tawa (gong kecil berpencon)

1 buah gong besar (tak bermoncol)
1 pangkon cengceng

ix. Gong Luwang
Gong Luwang adalah gamelan langka yang pada umumnya dipergunakan untuk mengiringi upacara kematian (ngaben). Gamelan yang berlaras pelog (tujuh nada) dan merupakan barungan madya ini, yang barungannya lebih kecil dari pada Gong Kebyar, termasuk salah satu jenis gamelan yang jarang dimainkan untuk mengiringi suatu pertunjukan tari atau drama. Kalaupun Gong Luwang dimainkan di atas pentas, seperti dalam pagelaran dramatari Calonarang, barungan ini hanya dipakai untuk mengiringi adegan memandikan mayat atau mandusin watangan.
Ada 8 atau 9 macam instrumen yang membentuk barungan gamelan Gong Luwang dengan jumlah penabuh antara 16 (enam belas) sampai 20 (duapuluh) orang.
Instrumentasi gamelan gong Luwang adalah:
Jumlah Satuan Instrumen
1 buah saron cenik
1 buah saron gede
2 buah jegogan

1 buah trompong

2 buah gong ageng

1 buah kempur

2-4 pasang cengceng kopyak

2 buah gambang bambu (saron)
2 buah kendang

Tabuh-tabuh Gong Luwang sangat melodis yang diwarnai oleh perpaduan ubit-ubitan reyong dan gambang yang khas yang diberi aksentuasi oleh saron dan jegogan. Peranan kendang sangat kecil karena suara kendang hanya terdengar mendekati jatuhnya gong untuk menandakan akhir dari suatu bagian komposisi. Hingga dewasa ini Gong Luwang masih hidup didesa Singapadu (Gianyar), Tangkas (Klungkung), Kerobokan (Badung) dan Kesiut (Tabanan) SMKI Bali dan STSI Denpasar juga memiliki masing-masing memiliki 1 barung gamelan Gong Luwang.
x. Selonding
Gamelan Selonding yang terbuat dari besi ini berlaras pelog tujuh nada ini tergolong barungan alit yang langka dan sangat disakralkan oleh masyarakat desa Tenganan Pegringsingan dan Bongaya (kabupaten Karangasem).
Gamelan ini dimainkan untuk mengiringi berbagai upaya adat Bali Aga yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat dan untuk mengiringi tari Abuang, Perang Pandan (Makare-karean) dan lain-lain.
Di kalangan masyarakat Tenganan Pagringsingan gamelan Selonding diberi nama Bhatara Bagus Selonding. Sejarah munculnya Selonding dikaitkan dengan sebuah mitologi yang menyebutkan bahwa pada zaman dulu orang-orang Tenganan mendengar suara gemuruh dari angkasa yang datang secara bergelombang. Pada gelombang pertama suara itu turun di Bongaya (sebelah timur laut Tenganan) dan pada gelombang kedua suara itu turun didaerah Tenganan Pagringsingan. Setelah hilangnya suara itu diketemukan gamelan Selonding (yang berjumlah tiga bilah). Bilah-bilah itu kemudian dikembangkan sehingga menjadi gamelan Selonding seperti sekarang.
Di Tenganan gamelan Selonding terdiri dari:
Jumlah Satuan Ciri-ciri Instrumen
8 tungguh berisi 40 buah bilah
6 tungguh masing-masing berisi 4 buah bilah
2 tungguh berisikan 8 buah bilah.
Team Survey Konservatori Karawitan Bali mencatat bahwa instrumentasi dari gamelan Selonding di Tenganan meliputi:
Jumlah Satuan Instrumen
2 tungguh gong
2 tungguh kempul
1 tungguh peenem
1 tungguh petuduh
1 tungguh nyongyong alit
1 tungguh nyongyong ageng
b. Gamelan Madya
Barungan madya, yang berasal dari sekitar abad XVI-XIX, merupakan barungan gamelan yang sudah memakai kendang dan instrumen-instrumen bermoncol (berpencon). Dalam barungan ini, kendang sudah mulai memainkan peranan penting.
i. Gamelan Batel Barong
Gamelan Batel Barong adalah sebuah barung alit yang dipakai mengiringi tari Barong Landung atau Barong Bangkal. Dalam banyak hal barungan ini merupakan pengiring prosesi, karena dimainkan sambil berjalan.
Batel Barong dibentuk oleh sejumlah alat musik pukul seperti:
Jumlah Satuan Instrumen
2 buah kendang kecil

1 buah kajar

1 buah kempur

1 buah kleneng
1 buah kemong

1 Pangkon ricik

Agak berbeda dengan barungan gamelan Bali lainnya, Batel Barong tidak mempergunakan instrumen pembawa melodi. Oleh karena itu musik yang ditampilkan cenderung ritmis dan dinamis.
ii. Gamelan Bebarongan
Gamelan Bebarongan ini dalam Catur Muni-Muni disebut dengan Semara Ngadeg, adalah barungan madya yang berlaras pelog (lima nada), dipakai mengiringi dramatari Barong Ket. Gamelan ini memiliki instrumen yang tidak jauh berbeda dengan gamelan Palegongan. Belakangan ini dengan semakin populernya Gong Kebyar, semakin banyaknya masyarakat yang mengiringi tari Barong dengan Gong Kebyar.
Ada satu perbedaan penting antara gamelan Bebarongan dengan Palegongan. Perbedaan ini menyangkut sistem atau pola permainan teknik kendang bahwa gamelan Bebarongan memakai kendang cedugan (kendang dengan alat pemukul/ panggul).
Karena gamelan ini merupakan bagian dari pertunjukan Barong Ket, gamelan Bebarongan bisa didapat di desa-desa yang memiliki tradisi Barong Ket yang kuat, seperti:
 Jumpai (Klungkung),
 Batubulan, Singapadu, Pejeng (Gianyar),
 Sanur (Denpasar),
 Kuta, Sading (Badung).
iii. Gamelan Joged Pingitan
Gamelan Joged Pingitan, dalam Catur Muni-muni disebut dengan Semara Palinggian adalah pengiring tari Joged Pingitan. Barungannya pada umumnya terdiri dari alat-alat berbilah dari bambu berlaras pelog (lima nada). Untuk memainkan instrumen-instrumen ini penabuhnya mempergunakan 2 panggul dengan teknik kakilitan atau kotekan.
Gamelan Joged Pingitan yang kini masih ada di beberapa tempat di Bali terdiri dari:
Jumlah Satuan Instrumen
1 pasang rindik besar (pangugal)
1 pasang rindik barangan, masing-masing berbilah 14 atau 15
1 pasang Jegogan
1 buah kemplung
1 buah kendang kekrumpungan
1 buah kajar
1 buah kemodong
1-2 buah suling
Joged Pingitan yang masih aktif antara lain terdapat di daerah:
 Gianyar
 Badung
 Denpasar
iv. Gamelan Penggambuhan
Gamelan yang dalam lontar Aji Gurnita disebut sebagai gamelan Melad perana, adalah gamelan pengiring dramatari Gambuh. Gamelan Penggambuhan termasuk barungan madya dan hingga kini dianggap sebagai salah satu sumber terpenting dari semua bentuk seni tabuh yang muncul di Bali setelah abad XV. Gending-gending Gambuh yang melodis dan ritmis merupakan tabuh-tabuh yang bernafaskan tari dari pada hanya bersifat tabuh instrumental.
Tabuh Penggambuhan pada umumnya berkesan formal, karena adanya berbagai aturan yang membedakan satu jenis lagu dengan yang lainnya, dan adanya patet yang mengatur susunan nada-nada. Karena gending-gending Gambuh adalah terkait dengan tarian, maka kebanyakan komposisi lagunya mengikuti pola tari yang diiringi. Gending-gending Gambuh disesuaikan dengan tarian yang mengiringi, setiap jenis tarian mempunyai gending, melodi dan patet tersendiri sesuai dengan perwatakannya.
Dalam pertunjukan Gambuh seringkali tampil seorang juru tandak (penyanyi tunggal laki-laki) yang menyanyikan kalimat-kalimat berbahasa Kawi mengikuti irama maupun melodi gamelan untuk menghidupkan berbagai perubahan suasana dramatik dari lakon yang dimainkan. Kadang-kadang juru tandak memberikan terjemahan terhadap dialog tertentu kedalam bahasa Bali agar penonton dapat mengikuti jalannya lakon.
Instrumentasi gamelan Penggambuhan terdiri dari:
Jumlah Satuan Instrumen
2-6 buah suling bambu sepanjang 1 meter dan memakai enam lubang nada
1-2 buah rebab

1 buah kempur

2 buah kendang kecil (lanang wadon)

1 pangkon ricik (cengceng kecil)

1 pasang kangsi (cengceng yang bertangkai)
1 buah gentorag (pohon genta)

Suling dan rebab adalah instrumen penting dalam Penggambuhan yang merupakan instrumen pemimpin dan pemangku melodi. Gamelan Penggambuhan berlaras pelog, tepatnya Pelog Saih Pitu (tujuh nada).
v. Gong Gede
Gong Gede juga termasuk barungan ageng namun langka, karena hanya ada di beberapa daerah saja. Gamelan Gong Gede yang terlihat memakai sedikitnya 30 (tigapuluh) macam instrumen berukuran relatif besar (ukuran bilah, kendang, gong dan cengceng kopyak adalah barung gamelan yang terbesar yang melibatkan antara 40 (empatpuluh) - 50 (limapuluh) orang pemain. Gamelan yang bersuara agung ini dipakai untuk memainkan tabuh-tabuh lelambatan klasik yang cenderung formal namun tetap dinamis, dimainkan untuk mengiringi upacara-upacara besar di Pura-pura (Dewa Yadnya), termasuk mengiringi tari upacara seperti Baris, Topeng, Rejang, Pendet dan lain-lain.
Beberapa upacara besar yang dilaksanakan oleh kalangan warga puri keturunan raja-raja zaman dahulu juga diiringi dengan gamelan Gong Gede. Akhir-akhir ini Gamelan Gong Gede juga ditampilkan sebagai pengiring upacara formal tertentu yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan untuk mengiringi Sendratari.
Gong Gede berlaras Pelog lima nada, dengan patutan atau patet tembang, dengan instrumentasi yang meliputi:
Jumlah Satuan Instrumen
1 tungguh trompong barangan (lebih kecil daripada trompong gede)

1 buah reong dengan 12 pencon

4 buah gangsa jongkok besar (demung)

4 buah gangsa jongkok pemade

4 buah gangsa jongkok kantilan

4 buah penyacah
4 buah calung
4 buah jegogan

1 pangkon kempyung (dua buah pencon)
1 buah kempli

2 buah gong ageng (lanang wadon)

1 buah kempur

1 buah bende

2 buah kendang (lanang wadon)

4-6 pasang cengceng kopyak

2 buah kendang

1 buah gentorag

Sesuai dengan fungsinya sebagai pengiring upacara agama di pura-pura, pengiring tari-tarian upacara dan pengiring upacara istana, Gong Gede memiliki sejumlah tabuh-tabuh pategak dan iringan tari.
Sekar Gong Gede yang hingga kini masih aktif terdapat di desa Batur, Susut, Sulahan (Bangli), Puri Pemecutan (Denpasar), Tampaksiring dan Puri Agung Gianyar (Gianyar), baik SMKI (sekarang SMKN 3 Sukawati) dan STSI Denpasar, masing-masing juga memiliki satu barung Gong Gede.
vi. Gamelan Pelegongan
Dalam Catur Muni-muni gamelan ini disebut dengan Semara Petangian. Gamelan Pelegongan adalah barungan madya berlaras pelog (lima nada) yang konon dikembangkan dari Gamelan Gambuh dan Semar Pagulingan. Barungan ini dipergunakan untuk mengiringi tari Legong Kraton, sebuah tarian klasik yang diduga mendapat pengaruh tari Sanghyang dan Gambuh.
Secara fisik gamelan Pelegongan adalah Semar Pagulingan tanpa trompong. Gamelan Pelegongan milik STSI Denpasar terdiri dari:
Jumlah Satuan Instrumen
1 pasang gender rambat
1 pasang gender barungan, masing-masing berbilah 14 (empat belas)
1 pasang jegogan
1 pasang jublag
4 pasang penyacah
2 pasang pemade
2 pasang gangsa jongkok pemade
2 pasang gangsa jongkok kantilan, masing-masing berbilah 5
1 pangkon ricik

1 buah kajar

1 buah kleneng
1 buah kemong

1 pasang kendang krumpungan (lanang wadon)
1 buah rebab

1-3 buah suling

Mengenai tabuh-tabuh Pelegongan sebagaimana disebutkan dalam Lontar Aji Gurnita berada di antara tabuh-tabuh gamelan Bebarongan, Joged Pingitan dan Semar Pagulingan. Memang pada kenyataannya kini iringan tari Legong masih memakai tabuh-tabuh Bebarongan (Calonarang) dan Semar Pagulingan.
Inti dari gending-gending Palegongan adalah pada Pangawak dan Pengecet. Selebihnya tergantung dari tema yang dimainkan.
vii. Semar Pagulingan
Gamelan yang dalam lontar Catur Muni-muni disebut dengan gamelan semara aturu ini adalah barungan madya, yang bersuara merdu sehingga banyak dipakai untuk menghibur raja-raja pada zaman dahulu. Karena kemerduan suaranya, gamelan Semar Pagulingan (semar=semara, pagulingan=peraduan) konon biasa dimainkan pada malam hari ketika raja-raja akan ke peraduan (tidur). Kini gamelan ini bisa dimainkan sebagai sajian tabuh instrumental maupun mengiringi tari-tarian/ teater.
Masyarakat Bali mengenal dua macam Semar Pagulingan:

1 Semar Pagulingan yang berlaras pelog 7 nada
2 Semar Pagulingan yang berlaras pelog 5 nada


Kedua jenis Semar Pagulingan secara fisik lebih kecil dari barungan Gong Kebyar terlihat dari ukuran instrumennya. Gangsa dan trompongnya yang lebih kecil dari pada yang ada dalam Gong Kebyar.
Instrumentasi gamelan Semar Pagulingan (milik STSI Denpasar) meliputi:
Jumlah Satuan Instrumen
1 buah trompong dengan 12 pencon

2 buah gender rambat berbilah 14

2 buah gangsa barungan berbilah 14
2 tungguh gangsa gantungan pemade

2 tungguh gangsa gantungan kantil

2 tungguh jegogan

2 tungguh jublag, masing-masing berbilah 7
2 buah kendang kecil

2 buah kajar

2 buah kleneng
1 buah kempur (gong kecil)

1 pangkon ricik

1 buah gentorag

1-2 buah rebab

1-2 buah suling

Instrumen yang memegang peranan penting dalam barungan ini adalah trompong yang merupakan pemangku melodi. trompong mengganti peran suling dalam Panggambuhan, dalam hal memainkan melodi dengan dibantu oleh rebab, suling, gender rambat dan gangsa barangan. Sebagai pengisi irama adalah Jublag dan jegogan masing-masing sebagai pemangku lagu, sementara kendang merupakan instrumen yang memimpin perubahan dinamika tabuh. Gending-gending Semar Pagulingan banyak mengambil gending-gending Panggambuhan.
Beberapa desa yang hingga sekarang masih aktif memainkan gamelan Semar Pagulingan adalah:
 Sumerta (Denpasar)
 Kamasan (Klungkung)
 Teges, Peliatan (Gianyar)
c. Gamelan Anyar
Gamelan Anyar adalah gamelan golongan baru, yang meliputi jenis-jenis barungan gamelan yang muncul pada abad XX. Barungan gamelan ini nampak pada ciri-ciri yang menonjolkan permainan kendang.
i. Adi Merdangga
Adi Merdangga adalah sebuah gamelan baru yang merupakan pengembangan dari Balaganjur, gamelan pengiring prosesi tradisional yang biasa dimainkan sambil berjalan. Beberapa alat musiknya dimasalkan dan beberapa teknik pukulannya diperkaya dengan "meminjam" motif-motif drumband (marching band) modern. Perpaduan seperti ini membuat Adi Merdangga juga disebut drum band tradisional. Gamelan yang baru muncul pada tahun 1984 ini dinamakan Adi Merdangga (Adi= Besar, Merdangga= Kendang), karena di dalam barungan ini dipergunakan puluhan kendang, suatu kebiasaan yang tidak pernah terjadi di dalam barungan gamelan Bali manapun. Adalah kreativitas para dosen dan mahasiswa STSI Denpasar yang telah menghasilkan gamelan baru ini yang kemudian juga ditiru oleh beberapa Kabupaten di Bali.
Teknik permainan Adi Merdangga masih tetap mempertahankan pola-pola kakilitan cengceng, reyong dan kendang, seperti yang terdapat dalam Balaganjur. Komposisi musik yang dimainkan masih berkisar pada tabuh Gagilakan dalam tempo cepat dan pelan. Yang baru adalah pukulan rampak ala drum band modern yang diselipkan di sela-sela kakilitan tradisional yang melibatkan kendang, cengceng dan reyong. Juga merupakan gagasan baru dalam Adi Merdangga pemain melodi tidak lagi terbatas pada instrumen pencon (reyong) melainkan sudah ditambah dengan beberapa buah suling. Ada dua jenis langkah pengembangan yang terjadi di dalam Adi Merdangga, penambahan alat-alat gamelan dan memasukan gerak tari ke dalam barungan gamelan. Di samping penambahan kendang, cengceng kopyak (cengceng besar) didua atau tiga kali lipatkan dari jumlah yang biasa (6-10 pasang) dan pemasukan instrumen trompong serta beberapa buah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda (besar dan kecil).
Sebagai bagian dari barungan ini adalah sejumlah penari putra dan putri pembawa alat-alat seperti tombak dan kipas, yang pada bagian-bagian tertentu dari komposisi musik tampil dengan gerakan tarinya yang dinamis dan ekspresif. Untuk mengimbangi para penari semua pemain gamelan juga bergerak mengikuti pola koreografi yang telah ditentukan. Beberapa penabuh Balaganjur tradisional yang mengenakan busana tradisional madya, penabuh Adi Merdangga menggunakan busana khusus yang terdiri dari celana ketat berwarna hitam kain prada, baju rompi, udeng dengan riasan muka seperlunya. Semuanya ini menunjukan bahwa Adi Merdangga adalah suatu bentuk musik dan tari yang dilakukan sambil berjalan (berpawai).
Sebagai barungan gamelan yang masih relatif muda, keberadaannya Adi Merdangga sudah diakui oleh masyarakat Bali. Hal ini dapat dilihat dari penampilan kesenian kolosal ini pada beberapa peristiwa penting seperti dalam Sea Games XIV di Jakarta, Upacara pembukaan World Tourist Organization, Pembukaan Grand Bali Beach Hotel, di samping penampilannya pada setiap pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang lebih menarik untuk dicatat, tehnik-tehnik dan pola permainan Adi Merdangga yang bersumber pada Balaganjur tradisional kini sudah banyak diserap kembali oleh para pemain gamelan tradisional itu untuk memperkaya dan "mewajah - barukan Balaganjur" mereka.
ii. Bumbung Gebyog
Bumbung Gebyog adalah barungan gamelan alit, yang juga berasal dari Jembrana, yang terbuat dari bambu. Gebyog merupakan musik masyarakat tani yang sangat sederhana bentuknya yang biasanya dimainkan pada waktu musim habis panen, oleh sekelompok ibu-ibu untuk mengungkapkan rasa gembira mereka.
Barungan ini dibentuk oleh antara 8 sampai 12 (dua belas) bumbung Gebyog, tanpa nada pasti, yang dimainkan oleh pemain wanita. Setiap orang pemain memegang sebuah bumbung dan membunyikan instrumennya dengan membenturkan pangkal bumbung pada sebuah alas dari kayu dalam pola kotekan yang lazim disebut oncang-oncangan. Pola kotekan ini meniru pukulan menumbuk padi, atau membuat tepung beras yang juga merupakan kegiatan sehari-hari wanita desa. Gebyog juga dimainkan untuk mengiringi tarian semacam tari Joged Bumbung.
iii. Gamelan Bumbang
Bumbang adalah sebuah barungan bambu yangmasih relatif sangat muda usianya. Barungan gamelan yang mirip Tektekan ini adalah ciptaan I Nyoman Rembang seorang ahli karawitan yang juga pembuat gamelan Bali, pada tahun 1982.
Meskipun baru melalui beberapa penampilannya di Pesta Kesenian Bali maupun di TVRI, Bumbang sudah semakin dikenal oleh kalangan masyarakat luas Bali.
Instrumen pokok dari gamelan Bumbang adalah alat-alat musik pukul berbentuk setengah kulkul (grantang) yang terbuat dari bambu. Ada sedikitnya 40 orang pemusik (laki-laki) memainkan gamelan ini, setiap orang membawa 1 sampai 2 buah bumbang. Sedikit berbeda dengan Tektekan yang lebih mengutamakan permainan ritme dalam bentuk Kakilitan, bumbang menonjolkan kakilitan dan permainan melodi. Hal ini dimungkinkan karena Bumbang terdiri dari alat-alat musik pukul yang teratur nada-nadanya.
Berdasarkan ukurannya instrumennya bumbang dapat dibedakan menjadi 3 kelompok :
Bumbang Pangede atau Jegogan Mempunyai ukuran paling besar dengan nada paling rendah
Bumbang Madya atau Pemade Mempunyai ukuran sedang dengan nada satu oktaf di atas bumbang gede
Bumbang Alit atau Kantilan Mempunyai ukuran paling kecil dengan nada yang tinggi melengking





Melengkapi barungan ini adalah:

Sepasang kendang ukuran menengah

Sepasang cengceng kecil (ricik)

Sebuah Gong Pulu yang berbentuk bilahan

Sebuah Gong (bermoncong) berukuran menengah

Beberapa buah suling bambu






Keunikan dari gamelan Bumbang adalah kemampuannya membawakan lagu-lagu atau komposisi musik yang diambil dari berbagai jenis seni pertunjukan, baik lagu-lagu yang berlaras pelog maupun slendro. Sistem nada setiap 1 buah memiliki nada tersendiri memungkinkan barungan ini memainkan lagu-lagu dari laras yang berbeda-beda.
iv. Gamelan Geguntangan
Gamelan Geguntangan adalah barungan baru yang juga disebut sebagai gamelan Arja atau Paarjaan. Gamelan ini adalah pengiring pertunjukan dramatari Arja yang diperkirakan muncul pada permulaan abad XX. Sesuai dengan bentuk Arja yang lebih mengutamakan tembang dan melodrama, maka diperlukan musik pengiring yang suaranya tidak terlalu keras, sehingga tidak sampai mengurangi keindahan lagu-lagu vokal yang dinyanyikan para penari. Melibatkan antara 10 sampai 12 orang penabuh, gamelan ini termasuk barungan kecil.
Instrumen guntang merupakan alat musik penting, di samping suling dan kendang dalam barungan ini.
Instrumentasi dari gamelan Geguntangan adalah:
Jumlah Satuan Instrumen
2 buah kendang kekrumpungan (kecil)
1 buah guntang kecil
1 buah guntang besar (guntang kempur)
1 buah kajar
1 buah kleneng
1 pangkon ricik
1 buah tawa-tawa
1-6 buah suling (hanya salah satu saja terbuat dari besi)
Pada mulanya Arja hanya menggunakan gamelan Geguntangan, namun kira-kira sejak beberapa tahun dalam perkembangan selanjutnya Arja diiringi dengan gamelan gong. Ide semacam ini sudah sejak lama dipraktekkan oleh Sekaa Gong Sengguan Gianyar yang setia mengiringi tari-tarian sejenis Arja atau Prembon dari Puri Gianyar. Namun pemakaian Gong Kebyar sebagai iringan Arja dipopulerkan oleh keluarga Kesenian Bali RRI Stasiun Denpasar dengan Arjanya yang mempergunakan lakon Godongan, Pakang Raras dan lain-lain.
Geguntangan adalah satu-satunya barungan gamelan Bali yang memakai 2 macam laras Slendro dan Pelog mengikuti laras tembang yang diiringinya. Perubahan laras dilakukan oleh pemain suling, satu-satunya instrumen pembawa melodi, dengan jalan merubah sistem tutupan (tatekep). Seperti halnya tabuh-tabuh gamelan pengiring tari, drama lainnya dan jenis-jenis tabuh Paigelan.
v. Gamelan Genta Pinara Pitu
Gamelan Genta Pinara Pitu juga merupakan barungan yang masih relatif baru di dalam jajaran gamelan Bali, Gamelan Genta Pinara Pitu (Genta dibagi tujuh) adalah pengembangan dari pada Gamelan Semar Pagulingan tujuh nada. Pembaharuan yang terjadi dalam gamelan ini adalah pemakaian dua oktaf pelog tujuh nada di dalam 1 instrumen. Pada Semar Pagulingan tradisional satu instrumen hanya mempergunakan 1 oktaf pelog tujuh nada.
Gamelan ini adalah ciptaan dari I Wayan Beratha seorang tokoh karawitan dan ahli pembuat gamelan Bali. Gamelan ini diperkenalkan pada tahun 1985, modivikasi dari penciptaan alat gamelan seperti ini adalah untuk menciptakan barungan gamelan yang bisa memainkan lagu-lagu Kakebyaran dan gending-gending Semar Pagulingan.
Penggunaan gamelan ini tidak terbatas pada pertunjukan tari dan drama saja, karena Gamelan Genta Pinara Pitu juga bisa dipakai untuk mengiringi upacara keagamaan. Instrumen dari gamelan ini tidak jauh berbeda dengan Gamelan Semar Pagulingan (panca nada) tradisional.
Instrumen-instrumen penting yang berperan di dalamnya adalah:


Gangsa (Jegogan, Jublag, Pemade, dan Kantil)

Sepasang kendang

Gong

Kempur

Kemong

Kajar

Cengceng

Beberapa suling bambu

Rebab









Instrumen terompong pada saat-saat tertentu juga berfungsi sebagai reyong tergantung dari komposisi musik yang dimainkan. Berbeda dengan Gamelan Semaradana, Genta Pinara Pitu nampaknya kurang berkembang.
vi. Gamelan Gong Kebyar
Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis.
Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 atau 10 . cengceng kopyak yang terdiri dari 4 sampai 6 pasang dirubah menjadi 1 atau 2 set cengceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan.
Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang, Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wayang yang lincah, Gong Gedeyang kokoh atau Pelegonganyang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar.
Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Barungan ini diperkirakan muncul di Singaraja pada tahun 1915 (McPhee, 1966 : 328). Desa yang sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi Tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan (Buleleng). Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau Kebyar Trompong.
Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebanyakan instrumennya memiliki 10 sampai 12 nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkandengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya.
Lagu-lagunya seringkali merupakan penggarapan kembali terhadap bentuk-bentuk (repertoire) tabuh klasik dengan merubah komposisinya, melodi, tempo dan ornamentasi melodi. Matra tidak lagi selamanya ajeg, pola ritme ganjil muncul di beberapa bagian komposisi tabuh.
Barungan Gong Kebyar bisa diklasifikasikan menjadi 3 :
 Utama = Yang besar dan lengkap
 Madya = Yang semi lengkap
 Nista = Yang sederhana
Barungan yang utama terdiri dari:
Jumlah Satuan Instrumen
10 buah gangsa berbilah (terdiri dari 2 giying / ugal, 4 pemade, 4 kantilan)

2 buah jegogan berbilah 5 - 6

2 buah jublag atau calung berbilah 5 - 7
1 tungguh reyong berpencon 12

1 tungguh terompong berpecon 10

2 buah kendang besar (lanang dan wadon) yang dilengkapi dengan 2 buah kendang kecil
1 pangkon cengceng

1 buah kajar

2 buah gong besar (lanang dan wadon)

1 buah kemong (gong kecil)

1 buah babende (gong kecil bermoncong pipih)

1 buah kempli (semacam kajar)

1-3 buah suling bambu

1 buah rebab





vii. Gamelan Janger
Janger yang merupakan tari pergaulan muda mudi ditarikan oleh para remaja sebanyak 20 sampai 24 orang. Gamelan yang mengiringinya terdiri dari:
Jumlah Satuan Instrumen
1 buah gender wayang

1 pasang kendang kekrumpungan (kecil)

1 buah tawa-tawa

1 buah kajar

1 buah rebana (yang kadang kala digantikan dengan gong pulu)

1 buah kleneng
1 pangkon ricik

1-3 buah suling

Walaupun Gender Wayang berlaras slendro (lima nada), Gamelan Janger berlaras slendro dan pelog. Untuk mengiringi lagu-lagu berlaras pelog biasanya Gender Wayang tidak dipergunakan dan pimpinan melodi akan diambil alih oleh suling. Akhir-akhir ini Gamelan Semar Pagulingan juga dipakai untuk mengiringi pertunjukan Janger.
viii. Gamelan Joged Bumbung
Gamelan ini termasuk barungan madya, yaitu sebuah barungan gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi tari Joged Bumbung, sebuah tari pergaulan di Bali yang dibawakan oleh seorang penari remaja putri yang pada bagian tarinya mengundang penonton untuk menari bersama (ngibing).
Gamelan Joged Bumbung sering kali juga disebut gamelan Gegrantangan, karena instrumen pokoknya terdiri dari tingklik bambu berbentuk gerantang (semacam tabung). Gamelan ini berlaras slendro lima nada (sama seperti gender wayang) dan untuk memainkan instrumen gerantang penabuh memakai 2 panggul, yang kanan memainkan kakembangan (ornamentasi), sedangkan yang kiri memainkan melodi pokok.
Instrumentasi gamelan Joged Bumbung pada umumnya terdiri dari:
Jumlah Satuan Instrumen
4 buah gerantang besar
4 buah gerantang kecil
1 buah gong kemodong
1 buah kleneng
1 pangkon ricik

1 buah kendang (berukuran sedang)

1 buah tawa-tawa

3-4 buah suling











Di beberapa tempat gamelan Joged Bumbung juga di lengkapi dengan beberapa Kepyak (sepasang tabung bambu yang pecah) dan juga reyong. Mengenai repertoire Gamelan Joged Bumbung diambil dari lagu-lagu rakyat, tabuh-tabuh Gong Kebyar, lagu-lagu Pop dan Gegandrangan (pengiring tarian bersama antara penari dan pengibing).
ix. Gamelan Manik-asanti
Gamelan Manikasanti (manik=permata, santi=damai) ini seca
a fisik merupakan perpaduan antara Palegongan dan Semar Pagulingan, memadukan berbagai saih & patutan yang ada dalam karawitan Bali seperti:
 Gong Gede
 Gong Luwang
 Semar Pagulingan
 Palegongan
 Angklung
 Gong Kebyar
 Bebarongan
 Selonding

Dengan fleksibilitas tangga nada yang dimiliki oleh barungan ini maka gamelan ini dapat memainkan lagu-lagu dari hampir semua gamelan Bali, bukan saja dalam 7 nada melainkan meliputi ke 14 saih yang ada.
Barungan ini terdapat di Banjar Dauh Kutuh, Desa Ubung Kaja, Kodya Denpasar, desa kelahiran I Wayan Sinti. Instrumentasi dari gamelan yang tergolong barungan ageng ini hampir sama dengan Gong Kebyar dengan tambahan beberapa gangsa jongkok. Uniknya adalah gangsa-gangsa gantungnya yaitu gender rambat, ugal, pemade dan kantil, berbilah/ bernada 11, trompongnya 14 pencon dan reyongnya 15 Pencon.
Catatan: Gangsa Jongkok adalah gangsa yang bilah- bilahnya bertumpu (cushioned) pada tungguhnya (badan /chasis resonansi gangsa). Sedangkan gangsa gantung adalah gangsa yang bilah- bilahnya digantung (suspended) menggunakan seutas tali regang yang ditumpu oleh beberapa penggantung untuk menjaga jarak layangnya di atas tungguh. Gaung dari getaran gangsa gantung lebih panjang dari pada gangsa jongkok karena getaran bilahnya tidak segera diredam dalam posisinya yang tergantung bebas.
x. Gamelan Semaradana
Gamelan Semaradana adalah sebuah barungan gamelan baru yang pada hakekatnya merupakan suatu pengembangan dari gamelan Gong Kebyar dan Semar Pagulingan (sapta nada). Sistem pengaturan nada dari gamelan ini terutama dari kelompok gangsa, menunjukan adanya penggabungan ide dari kedua barungan gamelan tersebut di atas. Gamelan ini adalah ciptaan dariI Wayan Beratha seorang tokoh karawitan sekaligus pembuat gamelan Bali.
Gamelan ini diperkenalkan pada tahun 1988. Motivasi dari penciptaan alat-alat gamelan seperti ini adalah menciptakan barungan gamelan yang bisa memainkan lagu-lagu kakebyaran dan gending-gending Semar Pagulingan. Penggunaan gamelan ini tidak terbatas pada pertunjukan tari dan drama saja, gamelan Semaradana juga bisa dipakai untuk mengiringi upacara keagamaan. Instrumen dari gamelan Semaradana ini tidak jauh berbeda dengan gamelan Gong Kebyar.
Instrumen-instrumen penting yang berperan di dalamnya adalah:
gangsa, (jegogan, jublag, pemade dan kantil)
sepasang kendang
gong kempur
kemong
kajar
reyong
cengceng
suling bambu
rebab

Sejak pertama kali diciptakan, gamelan Semaradana sudah semakin tersebar ke berbagai desa di Bali, bahkan sampai ke luar negeri. Para pemakai gamelan ini merasa bahwa gamelan ini sangat fleksibel, walaupun memainkannya diperlukan teknik khusus.


xi. Gong Suling
Gamelan Gong Suling adalah barungan gamelan yang didominir oleh alat-alat tiup suling bambu yang didukung oleh instrumen-instrumen lainnya. Gamelan yang berlaras pelog lima nada ini diperkirakan muncul sekitar tahun 1950.
Gong Suling pada hakekatnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, tabuh-tabuh yang dibawakan hampir semuanya berasal dari Gong Kakebyaran, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda.
Ada sedikitnya 30 suling di dalam barungan ini. Tingkatan tinggi rendah nadanya meniru tingkatan bunyi gangsa dalam Gong Kebyar. Lebih dari itu fungsi dari masing-masing instrumen juga disusun seperti Gong Kebyar, ada suling yang berfungsi sebagai jegogan, jublag, ugal, pemade dan kantil.
Melengkapi barungan ini adalah:
Jumlah Satuan Instrumen
2 buah kendang
 buah kajar
1 buah kemong
1 buah kempur
1 pangkon ricik


Gong Suling yang pada hakekatnya barungan suling bambu yang memainkan tabuh-tabuh Kebyar biasanya dipentaskan sebagai tabuh-tabuh instrumen dan sebagai iringan tari atau drama.
xii. Jegog
Barungan ini termasuk gamelan madya yang terdapat hanya didaerah Kabupaten Jembrana. Jegog adalah barungan gamelan berlaras pelog (empat nada) yang terdiri dari instrumen berbentuk tabung bambu.
Semula gamelan ini hanya dipakai untuk memainkan musik-musik instrumental dan pengiring pencak silat. Belakangan ini jegog juga dipakai untuk mengiringi tari-tarian Kebyar dan Drama Gong. Bagi masyarakat Jembrana pertunjukan Jegog yang paling berkesan adalah Jegog yang dilakukan pada hari-hari raya tertentu atau sehabis musim panen.
Ada 11 tungguh instrumen dalam barungan ini meliputi:

Jumlah Satuan Instrumen
3 tungguh instrumen barongan
3 tungguh kancilan
2 tungguh kentrungan
3 tungguh suwir
2 tungguh undir
1 tungguh jegogan, masing-masing 8 bilah / tabung

Jegogan adalah instrumen terbesar dalam barungan ini yang memberikan suara berkualitas gong. Untuk mengiringi tari-tarian barungan ini dilengkapi dengan beberapa instrumen lain, yaitu:
Jumlah Satuan Instrumen
2 buah Kendang Gupakan
1 buah Kajar
1 buah Tawa-tawa
1 buah Cengceng
1 buah Suling
1 buah Rebana
xiii. Kendang Mabarung
Gamelan ini termasuk barungan langka yang terdapat di daerah Jembrana, daerah asal gamelan Jegog dan Gebyog. Ada yang berpendapat bahwa Kendang Mabarung adalah gemelan Angklung yang memakai kendang besar atau kendang barung. Akan tetapi karena peranan kendang besar sangat menonjol dalam pertunjukan, maka penamaan terhadap barungan ini menjadi terfokus kepada kendang.
Instrumen pokok dalam barungan ini adalah dua kendang raksasa yang panjangnya sekitar 3 meter dengan garis tengah sekitar 1 meter.
Musik yang ditimbulkan cenderung berkesan ritmis, karena pukulan kendang itu sendiri mempunyai pola ritme yang bermacam-macam. Pembawa melodi dalam barungan ini adalah instrumen angklung yang berlaras pelog empat nada sama seperti laras Jegog. Penabuh Kendang Mabarung adalah 2 orang, masing-masing memukul 1 sisi kendang dengan alat pemukul. Teknik pukulannya adalah kotekan yang dilakukan secara imbal.
Kendang Mabarung sering ditampilkan untuk mengiringi perlombaan Makepung, kadangkala untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya dan Dewa Yadnya.
xiv. Okokan / Grumbungan
Okokan adalah instrumen semacam bel berukuran raksasa yang dibuat dari kayu yang dijadikan alat komunikasi oleh kelompok masyarakat di desa-desa terpencil. Instrumen yang sama, namun dengan ukuran yang lebih kecil disebut kroncongan yang biasa dipasang di atas pohon untuk mengusir binatang--binatang perusak tanaman kelapa, sebagai kalung ternak (sapi maupun kerbau).

Atas prakarsa masyarakat Baturiti (kabupaten Tabanan) dan Tegalalang (Kabupaten Gianyar) di mana terdapat cukup banyak instrumen okokan, alat-alat bunyi ini ditata menjadi sebuah barungan yang disebut Okokan atau Grumbungan.
Ada sedikitnya 30 buah okokan dalam barungan ini. Ada sejumlah pemain yang memainkan sebuah okokan secara lepas-lepas dan ada pula setiap dua orang merangkai 2 alat menjadi satu unit yang diusung oleh dua orang. Penabuh yang sekaligus pengusung mengambil posisi dibelakang okokan dan membunyikannya dengan cara mengocoknya.
Selain okokan dalam barungan ini juga dimasukkan dua buah kendang, 1 buah kajar dan sejumlah instrumen pukul lainnya. Musik yang ditimbulkan barungan berukuran besar ini sangat ritmis dan bersuasana magis. Sejak permulaan Pekan Kesenian Bali, Okokan selalu ditampilkan dalam acara pawai pembukaan pada pesta budaya tahunan ini.
xv. Tektekan
Adalah sebuah barungan gamelan yang relatif masih baru yang muncul di daerah Tabanan. Di desa Kerambitan, telah lama berlangsung suatu tradisi arak-arakan mengelilingi desa untuk mengusir roh-roh jahat yang dianggap mengganggu kehidupan masyarakat. Arak-arakan seperti ini biasa dilakukan saat desa terserang wabah penyakit. Instrumen baku dari barungan ini, yang melibatkan sedikitnya 50 (limapuluh) orang penabuh laki-laki, adalah sebuah kentongan atau kulkul dari bambu.
Masing-masing penabuh memegang sebuah kentongan dengan ukuran berbeda-beda dan memainkan instrumen mereka dengan pola kakilitan seperti ritme cak atau cengceng kopyak dalam Balaganjur. Selain kulkul, barungan ini juga dilengkapi dengan gong, tawa-tawa, sebuah kemong, beberapa buah suling dan sepasang kendang.
Gamelan ini kini menjadi bagian dari pertunjukan Calonarang. Bagi masyarakat luas Tektekan adalah pertunjukan Calonarang dari Tabanan yang terkenal dengan demonstrasi kekebalan. Dalam masa dua puluh tahun belakangan ini Tektekan telah menjadi salah satu acara yang digemari oleh wisatawan.
Berikut ini merupakan gambar instrumen-instrumen dari gamelan Bali yang disebutkan diatas.