Saat mengucapkan kata ‘gitar’, apa yang mungkin muncul di benak banyak orang adalah ‘Spanyol’, ‘Rock’, ‘Satriani’, atau mungkin ‘Fender’. Sempitkan lagi kata tersebut menjadi ‘gitar klasik’ dan mungkin kita dapatkan ‘Tarrega’, ‘Flamenco’, ‘Romance de Amor’, atau ‘Segovia’. Pemain gitar klasik pada umumnya lebih familiar dengan repertoire yang berbau Spanish, dari sekian banyak repertoire yang tersedia untuk dimainkan. Pada urutan berikutnya, musik - music modern a la Dyens dan
Saya pernah berhadapan dengan situasi dimana kejenuhan menyerang saat bermain. Saya banyak memainkan lagu, baik secara serius dipelajari ataupun sekedar sight reading untuk kesenangan saja. Namun pilihan yang saya hadapi saat itu mendorong saya untuk menemui jenis musik yang - katakanlah - bentuknya lagi - lagi seperti itu. Entah dia terdengar sangat Spanish, musik dengan melodi dan progresi chord yang sangat predictable, atau musik - musik modern yang bermain dengan nada - nada disonan serta sejumlah efek, dan yang terakhir bentuk baroque yang pada saat itu membuat kejenuhan saya semakin menjadi - jadi.
Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah perpustakaan digital yang memuat setumpuk repertoire musik gitar abad ke-19. Di
Mertz, sebelumnya, hanya saya kenal dari sebuah karyanya yang berjudul Fantaisie Hongroise (Hungarian Fantasy). Musiknya sangat virtuoso: penggunaan chord, interval, appergio, dan scale yang begitu rapat. Alunan nadanya pun terdengar sangat berbeda dari music - music Spanish atau music era klasik khas repertoire standar untuk gitar. Ia terdengar lebih ‘penuh’, lebih emosional, dan arah musiknya sangat tidak tertebak, sesuatu yang belum pernah saya dengar. Untuk pertama kalinya, saya melihat gitar sebagai sebuah instrumen solo yang benar - benar layak konser dan mampu menandingi kompleksitas piano. Gitaris yang memainkannya adalah seorang wanita bernama Xuefei Yang, seorang gitaris dari
Sampai sekarang, saya masih kesulitan untuk tahu lebih banyak tentang Mertz. Kebanyakan informasi yang beredar umumnya hanya memuat biografi singkat yang kurang lebih sama. Akhirnya saya menemukan sebuah situs yang sangat membantu, yaitu Early Romantic Guitar. Di
Sebuah introduksi yang menarik, ditulis oleh seorang gitaris dan bangsawan Rusia, Nicholas Makaroff. Dari The Memoirs of Makaroff (diambil dari Early Romantic Guitar):
”…Mertz, whose manuscripts, not in my possession, represent the precious pearls of guitar repertoire! …
Mertz was a tall man, about 50, neither fat nor thin, very modest and with no hint of a pretense to greatness about him. As soon as it was feasible, I offered him my guitar and asked him to play something. He took it readily and immediately began to play. It was a fascinating large work.
“By whom is this piece written?” I asked.
“By me,” was the answer. “It has not been published yet.” Then he played another piece, and still another. Each one better than the last — all magnificent. I was dumbfounded with surprise and admiration. I felt like a
In contrast, the music played by Mertz, to which I listened with ever-growing rapture, contained everything — rich composition, great musical knowledge, excellent development of an idea, unity, novelty, grandeur of style, absence of trivial expression and multiplicity of harmonic effects.
At the same time, there was the clear basic melody, which kept surging above the surface of arpeggios and chords. The effects were brilliant and daring. Basic to all this, he had a deep understanding of the instrument with all its possibilities and hidden secrets. In his full-hearted compositions, I liked the finales and introductions especially well, because they were unusual and were wonderfully developed. They could be removed from the rest and played separately without losing their power and musical significance. Thus, they could give full satisfaction to any listener. “
Sedikit yang Dapat Ditemukan Tentang Sang KomposerJohann Kaspar Mertz lahir di Pressburg, Hungaria pada 17 Agustus 1806 dan meninggal di
Mertz menyempurnakan tekniknya secara otodidak. Pada usia 34 tahun ia pindah ke
Di salah satu rangkaian konser tersebut, Mertz bertemu seorang pianis, Josephine Plantin. Sebuah kebetulan, dimana keduanya tampil pada program konser yang sama. Keduanya menjalin persahabatan yang berujung pada sebuah concert tour berikutnya yang menyebabkan keduanya memperoleh ketenaran karena penampilan yang brilian serta artistik dan juga menghasilkan kesuksesan finansial. Pada akhirnya, 14 Desember 1842 keduanya menikah di
Kesibukannya pada akhirnya terhenti oleh sakit yang dideritanya. Selama 2 tahun, dari 1845-1847 ia tidak dapat tampil dalam pertunjukan apapun. Sebuah kecelakaan memperburuk kondisi kesehatannya, yaitu saat ia mengalami overdosis strychnine akibat kesalahan takaran yang dilakukan oleh istrinya. Strychnine adalah obat yang digunakan untuk perawatan neuralgia, penyakit yang kemungkinan diderita Mertz saat itu. Selama masa penyembuhan, Josephine banyak memainkan musik - musik romantik (musik pada zaman itu) di piano untuk menghibur suaminya. Hal ini banyak mempengaruhi karya - karyanya setelah itu, terutama dalam karakter suara yang dihasilkan oleh lagu - lagunya, serta teknik tangan kanan yang digunakan untuk memainkan komposisi - komposisi tersebut.
Pada musim semi tahun 1848, Mertz kembali mengadakan konser. Apresiasi publik begitu luar biasa. Sampai - sampai pada hampir setiap pertunjukan gedung pertunjukan selalu digunakan hingga kapasitas maksimumnya dan banyak penonton yang ditolak masuk karena sudah tidak tersisa ruang lagi.
Di tahun 1856, seorang bangsawan Rusia, Nicholas Makaroff mengadakan sebuah kompetisi internasional dalam komposisi. Hal ini dimaksudkan untuk merangsang lahirnya karya - karya baru dan memperluas popularitas gitar sebagai instrumen konser. Kompetisi ini diikuti 31 kontestan dan para juri menerima 64 komposisi. Diantaranya merupakan karya musisi ternama era itu seperti Leonard (seorang violinist), Servais, Demunck (keduanya adalah violoncellist), dan beberapa lagi adalah orang - orang dari Brussels Conservatoire of Music. Mertz mengirimkan Opus 65: Trois Morceaux pour Guitarre untuk kompetisi tersebut. Komposisi ini adalah karya terakhir Mertz. Tekanan kesibukan serta penyakit yang mendera tubuhnya akhirnya mencabut nyawanya pada 14 Oktober 1858. Opus 65 mendapat juara pertama dalam kompetisi Makaroff, namun sayang sang komposer tidak sempat mengetahui kabar tersebut.
Permata yang Tersembunyi
Musik - music karya Mertz sangat kental pengaruh romantiknya. Sebuah suguhan yang melankolis, emosional, kompleks, serta membutuhkan keahlian virtuoso pada sebagian besar komposisinya. Model musiknya dapat dikelompokan dalam kategori yang sama dengan music - music Chopin, Schubert, Mendelssohn, dan Schumann. Sangat berbeda dengan model ‘klasik’ Mozart atau Haydn seperti yang dimiliki juga oleh Fernando Sor dan Aguado. Juga sangat berbeda denganDalam konser, Mertz menggunakan gitar 10 senar. Kemungkinan besar adalah sebuah gitar Stuffer, seorang luthier dari
Karya - karya Mertz, dapat dikatakan sebuah permata yang terlupakan. Banyak karyanya yang sangat pantas untuk kembali dihidupkan di ruang - ruang konser. Opera Revue Op.8 adalah salah satu karya yang layak ditampilkan. Merupakan kumpulan 33 lagu berdasarkan tema opera dari opera - opera terkenal di zamannya. Mirip dengan Rossiniana karya Giuliani, Opera Revue membutuhkan teknik yang demikian tinggi dan mendorong posibilitas gitar hingga ke batas tertingginya. Setipe dengan transkripsi orchestra kepada piano atau gitar solo oleh Listz atau Yamashita. Il Trovatore dan Rigoletto adalah favorit saya dari Op.8 ini (keduanya adalah opera karya Verdi).
Bardenklang Op.13 berisi 13 lagu - lagu pendek dengan tingkat kesulitan yang bervariasi. Setiap lagu menceritakan sebuah cerita atau mood/afeksi tertentu. Liebeslied, Romanze, dan
Karya - karya lain yang saya anjurkan untuk dengarkan atau coba mainkan adalah Harmonie du Soiree, Concierto, Trois Nocturne Op.4 (tidak terlalu sulit dimainkan dan sangat mengalun), dan Op.65 (terutama Fantaisie Hongroise). Lalu Elegie, yang merupakan lagu yang paling saya senangi secara pribadi, sebuah syair ratapan dengan